<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Promosi Band Indie &#187; underground music</title>
	<atom:link href="http://band-indie.com/tag/underground-music/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://band-indie.com</link>
	<description>Media Promosi Band Indie</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 Mar 2013 13:44:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
		<item>
		<title>Awal Musik Underground</title>
		<link>http://band-indie.com/awal-music-underground.html</link>
		<comments>http://band-indie.com/awal-music-underground.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 21:28:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Individu</dc:creator>
				<category><![CDATA[News and Events]]></category>
		<category><![CDATA[anak band]]></category>
		<category><![CDATA[band indie]]></category>
		<category><![CDATA[band local]]></category>
		<category><![CDATA[indie]]></category>
		<category><![CDATA[indie label]]></category>
		<category><![CDATA[music history]]></category>
		<category><![CDATA[musik underground]]></category>
		<category><![CDATA[promosi]]></category>
		<category><![CDATA[promosi band]]></category>
		<category><![CDATA[promosi band indie]]></category>
		<category><![CDATA[promote]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah musik]]></category>
		<category><![CDATA[underground]]></category>
		<category><![CDATA[underground music]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/band/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gipsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia. Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah [...]</p><p>The post <a href="http://band-indie.com/awal-music-underground.html">Awal Musik Underground</a> appeared first on <a href="http://band-indie.com">Promosi Band Indie</a>.</p>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kelahiran scene musik rock <strong><a href="http://band-indie.com">underground</a></strong> di Indonesia sulit dilepaskan  dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai pendahulunya. </p>
<p style="text-align: justify;">Sebut saja misalnya God Bless, Gang  Pegangsaan, Gipsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem  (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari  Banten.<span id="more-329"></span>
Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia. Istilah underground  sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70an.  Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal  Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras  dengan gaya yang lebih liar dan exstrem untuk ukuran zamannya. Padahal  kalau mau jujur, lagu2x yang dimainkan band- band tersebut di atas  bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar  negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis,  Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP.</p>
<p style="text-align: justify;">Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah namanya  sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass  Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla  (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log jugalah yang membidani  lahirnya label rekaman rock yang pertama di Indonesia, Logiss Records.  Produk pertama label ini adalah album ketiga God Bless, “Semut Hitam”  yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga 400.000 kaset di seluruh  Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjelang akhir era 80-an, di seluruh dunia waktu itu anak-anak muda  sedang mengalami demam usik thrash metal. Sebuah perkembangan style  musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan heavy metal. Band2x  yang menjadi gods-nya antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth,  Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kebanyakan kota2x besar di  Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang hingga  Bali, scene undergroundnya pertama kali lahir dari genre musik ekstrem  tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>UNDERGROUND VS IDEALISME</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kata underground periode tahun 90-04 sempat naik daun, dan jadi basis  sayap kiri bagi kalangan musisi independen. Di Bandung basis kelompok  musisi indie, kata underground diterjemahkan sebagai bawah tanah, dengan  arti khusus kebebasan buat berkarya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kami menyebut underground sebagai spirit bermusiknya. Di Bandung  underground nggak ada yang istilah paling hebat. Jadi, semua bersaing.  Semua memiliki kubu dan massa masing-masing. Beda dengan di Jakarta,  dulu ada satu grup yang menjadi pimpinan underground. Di Sukabumi juga  begitu, kata salah satu penyiar Radio MGT FM Bandung. Karena kata  underground sering diartikan salah kaprah, maka bagi sebagian musisi,  kata underground diartikan sebagai band-band pembawa lagu-lagu keras,  “wah yang ngomomg kayanya blom lulus buat jadi musisi nih” tapi buat  banyak musisi lainnya, underground bisa diisi segala macam jenis musik,  selama mereka belum masuk pada major label.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak band2x yang sekarang bernaung di major label, background  aslinya adalah band indie juga. toh buat mereka ga ada masalah dengan  penggemar panatik mereka ketika masih band indie, apa yang dicapainya  sekarang adalah titik kesuksesan berkarir, soalnya kita sedang di dalam  ruang lingkup rezeki kalau memang kita bisa masuk ke major label knapa  ngga kita manfaatin semaksimal mungkin bukan berarti indie label ngga  ngejanjiin masa depan yang bagus. ini tinggal soal peluang yang harus  atau ngga diambil sama sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Aliran musik dalam underground bisa sangat beragam, mau yang load  voice, midlle voice sampai yang kalem pun itu bisa, yang penting  semangat dalam pembawaan nya aja yang jangan di lupain. soalnya semangat  / spirit ini lah yang paling penting “UNDERGROUND SPIRIT”. ambil  contoh, ketika kita mendengarkan beberapa buah lagu : return of  zelda-system of a down, enter sandman-metallica dan american idiot-green  day. Yang kita tahu ke tiga lagu tsb sama2x load voice, sama2x  dimainkan dengan peralatan musik yang ga jauh beda jenisnya, tapi kalo  kita telisik lebih dalam pasti ada banyak perbedaan yang mencolok dari  ke tiga nya, apalagi kalo bukan pembawaan ama spiritnya. Hal ini juga  lah yang dapat membedakan jenis musik dan aliran apa yang mereka  mainkan. Begitu pula dengan undergound, klo selalu di deskripsikan  dengan musik yang keras, tentunya itu salah besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun memang underground lebih dekat dengan jenis musik metal. Jenis  musik ini memang jauh dari incaran perusahaan rekaman besar yang, yang  biasa disebut major label. Bahkan ada pendapat agak ekstrem, “Kalau band  indie masuk major label, pasti konsep bermusiknya jadi beda, karena  harus disesuaikan dengan pasar, dan tak dapat beridealis ria lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat inilah yang ditolak oleh Beng-Beng, Jun Fan Gung Foo dan  Noin Bullet dari Bandung. Noin Bullet yang memainkan musik ska-core,  awalnya memang indie label, namun kini masuk lingkaran major label  Warner Music Indonesia. “ Tapi musik kami tak berubah. Semua lagu yang  kami jual dengan indie label, langsung diedarkan lagi oleh Warner,  dengan label Warner Music Indonesia. Tanpa berubah, tanpa didikte  siapapun, “ kata Chairul, gitaris Noin Bullet. Bersama Beng-Beng, ia  curiga, jangan-jangan anak-anak indie banyak iri, karena Pas, Noin  Bullet dan beberapa band indie lainnya bisa masuk major label, sementara  mereka belum. http://www.newsmusik.net/</p>
<p style="text-align: justify;">Ngomong2x soal idealisme, sebagian besar band2x indie mengusungnya  baik dalam karya lagu, pementasan bahkan ada yang membawa idealisme  tersebut dalam kehidupannya sehari - hari. Macam2x jenis idealisme yang  di usung band2 indie tsb, diantaranya : Idealis terhadap isu anti  kemapanan, Idealis terhadap isu anti major label, Idealis terhadap isu  sosial, politik dan ekonomi bahkan ada yang lebih extrem yaitu Idealis  dengan atheisme atau tidak percaya terhadap adanya Tuhan. Cuman untuk  point yang ke empat ini kita akan sangat sulit untuk menjumpainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak band-band indie yang sejak awal sudah idealis salah satunya  alergi sama major label, dan tak mau menawarkan lagu2x karyanya ke sana.  Padahal banyak contoh menarik tentang band-band indie yang masuk major  label, seperti Netral, Pas, Jun Fan Gung Foo dan Sucker Head.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut adalah sebagian kecil band2x indie asli made in bandung yang  mungkin dapat gw inget, yang eksistensinya masih dapat kita jumpai :</p>

<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Jack and the four man, Koil, Polyester embassy, The tomato, Rocket  rocker, Alone at last, Closehead, Mobil derek, Disconnected, The  s.i.g.i.t, Mocca, Tcukimay, Pure saturday, A stone A, Retrieval,  Restless, Hellgods, Jeruji, Laluna, Maymelian, Burgerkill, Bak sampah  dll</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, dalam keluarga underground alias independen itu, ada jenis  musik yang beragam : industrial-techno, hardcore, brutal death metal,  punk, hardrock, ska, alternative, black metal dan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>
</em>UNDERGROUND VS INDIE</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Indie Indonesia Era 2000-an</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana pergerakan scene musik independen Indonesia era 2000-an?</p>
<p style="text-align: justify;">Kehadiran teknologi internet dan e-mail jelas memberikan kontribusi  besar bagi perkembangan scene ini. Akses informasi dan komunikasi yang  terbuka lebar membuat jaringan (networking) antar komunitas ini semakin  luas di Indonesia. Band-band dan komunitas-komunitas baru banyak  bermunculan dengan menawarkan style musik yang lebih beragam.</p>
<p style="text-align: justify;">Trend indie label berlomba-lomba merilis album band-band lokal juga  menggembirakan, minimal ini adalah upaya pendokumentasian sejarah yang  berguna puluhan tahun ke depan. Yang menarik sekarang adalah dominasi  penggunaan idiom indie dan bukan underground untuk mendefinisikan sebuah  scene musik non-mainstream lokal. Sempat terjadi polemik dan perdebatan  klasikmengenai istilah indie atau underground ini di tanah air.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian orang memandang istilah underground semakin bias karena  kenyataannya kian hari semakin banyak band-band underground yang  sell-out, entah itu dikontrak major label, mengubah style musik demi  kepentingan bisnis atau laris manis menjual album hingga puluhan ribu  keping. Sementara sebagian lagi lebih senang menggunakan idiom indie  karena lebih elastis dan misalnya, lebih friendly bagi band-band yang  memang tidak memainkan style musik ekstrem. Walaupun terkesan lebih  kompromis, istilah indie ini belakangan juga semakin sering digunakan  oleh media massa nasional, jauh meninggalkan istilah ortodoks  `underground’ itu tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditengah serunya perdebatan indie/underground, major label atau indie  label, ratusan band baru terlahir, puluhan indie label ramai- ramai  merilis album, ribuan distro/clothing shop dibuka di seluruh Indonesia.  Infrastruktur scene musik non-mainstream ini pun kian established dari  hari ke hari. Mereka seakan tidak peduli lagi dengan polarisasi  indie-major label yang makin tidak substansial. Bermain musik sebebas  mungkin sembari bersenang-senang lebih menjadi panglima sekarang ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>[brigezisback.wordpress.com]</em></p><p>The post <a href="http://band-indie.com/awal-music-underground.html">Awal Musik Underground</a> appeared first on <a href="http://band-indie.com">Promosi Band Indie</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://band-indie.com/awal-music-underground.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
